Israel dan Lebanon Sepakati Damai Bersyarat, Tapi Hezbollah Tetap Keras

Israel dan Lebanon Sepakati Damai Bersyarat, Tapi Hezbollah Tetap Keras

Ringkasan Berita:
  • Israeil dan Libanon setuju untuk menerapkan gencatan senjata dengan syarat yang meliputi henti penyerangan oleh Hizbullah serta penciptaan kawasan keamanan di wilayah Selatan Libanon.
  • Walaupun perjanjian perdamaian diumumkan melalui penengahan AS di Washington, pertempuran di lapangan tetap berlanjut.
  • Anggota Hezbollah menolak perjanjian damai sebagian, sedangkan serangan militer Israel ke wilayah Selatan Lebanon tetap menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

ANTS Israel dan Libanon mengumumkan perjanjian gencatan senjata yang terkait dengan memburuknya pertikaian persenjataan di wilayah perbatasan bagian selatan Libanon, Jumat (5/6/2026).

Perjanjian ini merupakan kemajuan yang signifikan setelah beberapa bulan perang melewati wilayah antara pasukan militer Israel dengan kelompok Hezbollah semakin memburuk.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan secara bersama, keduanya mengungkapkan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku jika memenuhi beberapa kondisi penting, seperti dihentikannya sepenuhnya serangan oleh Hezbollah dan mundurnya anggota organisasi itu dari daerah Selatan Lebanon.

Walaupun Israel dan Libanon belum menjalin hubungan diplomatik resmi, keduanya setuju untuk menciptakan "zon percobaan" keamanan di area tertentu.

Di dalam skema ini, militer Lebanon akan memperoleh kendali sepenuhnya terhadap wilayah itu dengan mengusir semua pelaku kekerasan yang bukan merupakan organisasi negara.

Tindakan ini dianggap sebagai langkah pertama dalam usaha menenangkan ketegangan yang semakin memburuk sejak Hezbollah kembali melakukan penyerangan terhadap daerah Israel pada tanggal 2 Maret lalu sebagai wujud dukungan kepada Iran.

Sesi Diskusi Diadakan di Washington

Menurut laporan AFP, perjanjian awal ini tercapai pada putaran keempat diskusi langsung antara para diplomat Lebanon dan Israel yang dilaksanakan di Washington, Amerika Serikat.

Sesi pertemuan tersebut merupakan salah satu bentuk diplomatik yang sangat penting sejak perselisihan kembali muncul di wilayah perbatasan antara Lebanon dan Israel.

Pertemuan lanjutan antara kedua belah pihak direncanakan akan digelar dalam minggu ke-22 bulan depan dengan maksud untuk mencapai perjanjian yang lebih menyeluruh.

Pihak pemerintah Amerika Serikat dikenal memiliki peranan krusial dalam proses penengahan itu. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyampaikan keinginannya untuk memisahkan diskusi tentang konflik di Lebanon dengan perang yang lebih besar antara Iran dan aliansinya.

Namun demikian, Iran tidak setuju dengan pendapat itu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa perselisihan di Lebanon serta ketegangan wilayah saling terkait.

Dia bahkan memberi peringatan bahwa serangan terhadap Beirut bisa menyebabkan "kembali pecahnya perang berskala penuh".

Pertempuran Terus Berlangsung Meski Ada Perjanjian Kekerasan Masih Berlangsung Di Tengah Kesepakatan yang Ditetapkan Perang Tak Henti Walaupun Sudah Ada Kesepakatan Konflik Berkelanjutan Meskipun Telah Dilakukan Perjanjian Tetap Ada Serangan Walau Ada Kesepakatan yang Disepakati Perselisihan Berlanjut Meski Pihak-Pihak Bersedia Menandatangani Perjanjian Aksi Kekerasan Masih Terjadi Meski Ada Kesepakatan Antara Pihak-pihak Terkait Penyerangan Tetap Berlangsung Kendati Ada Kesepakatan yang Ditunjuk Konfrontasi Lancar Juga Berlangsung Meskipun Ada Kesepakatan yang Dipenuhi Keamanan Mengalami Tekanan Meski sudah ada kesepakatan antara pihak terlibat

Meskipun perjanjian gencatan tembak telah dikeluarkan, pertempuran yang melibatkan senjata tetap berlangsung di medan laga.

Tentara Israel mengklaim berhasil menangkal satu "pesawat musuh" serta dua rudal yang ditembakkan dari wilayah Lebanon arah ke bagian utara negara tersebut pada hari Rabu (3 Juni 2026).

Di sisi lain, anggota kelompok Hezbollah menyatakan bahwa mereka melancarkan serangan terhadap tentara Israel sebagai tanggapan terhadap dugaan pelanggaran kesepakatan damai oleh militer negara tersebut.

Keadaan ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan gencatan senjata masih menghadapi kendala yang signifikan di medan perang.

Sebelumnya, gencatan senjata yang direncanakan akan berlaku sejak tanggal 17 April ternyata tidak dapat dilaksanakan secara sempurna oleh kedua belah pihak. Masing-masing sisi saling mengklaim bahwa lawannya telah melanggar perjanjian terlebih dahulu, sehingga pertarungan tetap berlanjut.

Pemimpin tinggi Hizbullah, Mahmud Qomati, juga menyatakan bahwa kelompoknya tidak akan menerima "gencatan senjata sebagian" yang dianggap hanya merugikan salah satu pihak.

Sementara berlangsungnya upaya diplomatik, serangan udara yang dilakukan oleh Israel di wilayah Selatan Lebanon tetap menimbulkan korban jiwa.

Departemen Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan terjadi di area Al-Hawsh dekat kota Tyre, menyebabkan tiga penduduk Suriah dan seorang warga Palestina meninggal dunia. Di sisi lain, serangan lainnya dilaporkan menyerang mobil ambulance dari Asosiasi Pramuka Risala yang berada dalam naungan kelompok Amal, aliansi dari Hezbollah.

Dua tenaga kesehatan dilaporkan meninggal dunia akibat serangan itu. Gambar-gambar yang dikeluarkan pemerintah Libanon menunjukkan sebuah mobil ambulance yang hancur berat dengan peralatan medis tercecer di jalanan.

Setelah perselisihan kembali meningkat, setidaknya 130 tenaga medis dan petugas pemadam kebakaran telah dilaporkan gugur di Lebanon.

Tentara Lebanon melaporkan satu anggotanya gugur akibat serangan dari Israel, sedangkan dua petugas lainnya cedera dalam serangan berbeda yang menargetkan kendaraan militer.

Militer Lebanon mengkritik tindakan yang mereka anggap sebagai "serangan sengaja" terhadap staf militer serta infrastruktur pemerintah.

Para pengamat menganggap perjanjian damai sementara ini sebagai kesempatan signifikan dalam upaya menekan peningkatan ketegangan di wilayah tersebut. Akan tetapi, serangan yang masih terjadi menandakan bahwa kondisi di medan masih sangat rentan.

Bila gencatan senjata tidak dapat dilaksanakan dengan konsisten, maka konflik berpotensi membesar menjadi perang regional yang lebih luas serta terlibatnya semakin banyak pihak dalam wilayah Teluk Persia.

(ANTS/ Namira)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama