Dikarang oleh: Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas SPd MPd, Guru SDN 4 Banyuringin Kendal serta Fasilitator Tanoto Foundation
KETIKA Hasil Ujian Kemampuan Akademik (UKA) tahun 2026 mengungkapkan bahwa rata-rata skor mata pelajaran Matematika siswa Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah tingkat nasional adalah 43,61, sedangkan untuk Bahasa Indonesia mencapai 60,35. Kita tidak boleh hanya merasa khawatir dengan angka-angka tersebut. Data ini menyampaikan pesan yang sangat penting yaitu pendidikan Matematika di jenjang sekolah dasar harus dievaluasi ulang, khususnya bagaimana kita membentuk kemampuan berpikir logis serta pemecahan masalah kepada para murid.
Hasil ini sebaiknya dijadikan sebagai wadah untuk merenung bersama. Masalahnya bukan sekadar tentang mengapa hasil belajar matematika masih rendah, namun lebih pada apakah metode pengajaran yang dilakukan saat ini sudah sungguh-sungguh memberdayakan peserta didik dalam memahami konsep matematika secara menyeluruh. Pertanyaan ini sangat krusial karena matematika tidak hanya mengharuskan kemampuan hitung saja, tapi juga pemahaman terhadap kondisi tertentu, analisis data, pemilihan pendekatan, serta membuat pilihan dengan cara rasional.
Di dalam pelajaran matematika, para murid tidak cukup hanya menghapalkan rumus. Mereka harus bisa memahami situasi yang diberikan, menentukan metode pemecahan yang sesuai, dan kemudian melakukan analisis agar mendapatkan hasil yang logis. Sayangnya, kondisi yang sering terjadi di sekolah dasar justru sebaliknya. Banyak anak mampu menjawab pertanyaan yang mirip dengan contoh yang diajarkan oleh guru, namun kewalahan saat menghadapi soal yang agak berbeda. Mereka mungkin hafal tahapan pengerjaannya, tapi belum pasti tahu alasannya mengapa prosedur itu dilakukan.
Keadaan ini tidak timbul tiba-tiba. Di dalam praktek pengajaran matematika di berbagai kelas, para guru masih kerap kali menitikberatkan pada pemberian rumus serta langkah-langkah penyelesaian soal. Niatnya jelas positif, yakni agar materi bisa diselesaikan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tetapi bila rumus disajikan terlalu cepat, peserta didik kehilangan peluang untuk merangkai pemahaman secara perlahan-lahan. Proses belajar menjadi lebih fokus pada kemampuan meniru contoh dibandingkan kemampuan mencari arti atau makna.
Gambaran semacam ini sudah sangat umum. Saat belajar tentang luas bangun datar, para siswa biasanya langsung dikenalkan dengan rumus panjang dikali lebar. Pada saat membahas bilangan pecahan, fokus siswa segera tertuju pada tahapan dalam melakukan operasi aritmetika. Terkadang bahkan mereka diajarkan beberapa trik praktis agar bisa mengerjakan soal secara lebih cepat. Secara tak sadar, matematika menjadi sekumpulan aturan yang harus dihafal. Hal ini menyebabkan siswa tahu bagaimana menggunakan rumus, namun tidak selalu paham alasan mengapa rumus itu berlaku.
Sebenarnya, literasi matematika adalah kompetensi yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan tersebut diperlukan saat seseorang mengatur uang jajan, membandingkan harga produk, membaca diagram informasi umum, memahami data kesehatan, meramalkan kebutuhan bahan, bahkan dalam membuat keputusan yang melibatkan pemikiran rasional. Oleh karena itu, proses belajar numerasi sebaiknya tidak hanya terbatas pada kemampuan mendapatkan jawaban yang tepat, namun juga menciptakan pola pikir yang logis, kritis, serta memiliki makna.
Di sini, teori Jerome Bruner mengenai cara penyajian proses belajar memiliki kepentingan yang penting dalam pendidikan matematika di tingkat Sekolah Dasar. Menurut Bruner, perkembangan pemahaman terjadi melalui tiga fase, yakni enaktif, ikonik, serta simbolis. Dalam fase enaktif, peserta didik belajar melalui interaksi langsung dengan objek nyata. Di tahap ikonik, mereka mulai memahami suatu gagasan melalui gambar, grafik, bagan, atau bentuk representasi visual lainnya. Selanjutnya, para siswa masuk pada tahap simbolik dimana mereka mampu mengekspresikan ide-ide matematis menggunakan bilangan, lambang-lambang, maupun formula-formula tertentu.
Sayangnya, dalam pembelajaran matematika, kadang langkah-langkah awal dilewati begitu saja dan langsung beralih ke tahap simbolis. Formula digunakan sebagai titik awal belajar, meskipun bagi murid SD, formula seharusnya merupakan hasil dari pemahaman akan konsep-konsep tersebut. Jika pengalaman nyata dan visual kurang disediakan, lambang-lambang matematika bisa menjadi hal yang asing, kaku, serta hanya dihapal tanpa makna. Dampaknya, pemahaman yang dibentuk bersifat dangkal dan cepat lupa saat siswa menghadapi kondisi baru.
Oleh karena itu, guru harus menyusun pembelajaran yang memadukan pengalaman nyata dengan konsep-konsep matematika secara bertahap. Dalam hal ini, guru bisa menggunakan metode pembelajaran BERMAKNA, yakni Pembelajaran Berdasarkan Pengalaman Aktual, Representasi Media Bruner, serta pemahaman terhadap konsep numerik. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak sekadar mendapatkan penjelasan dari guru, namun juga menjalani proses pencarian sendiri atas konsep tersebut.
Di dalam proses belajar di kelas, langkah-langkah ini bisa disampaikan melalui suatu alur yang mudah dipahami. Murid menghadapi sebuah situasi nyata, menjelaskan pengalaman mereka, dan selanjutnya menyusun lambang matematika berdasarkan observasinya. Sebagai contoh, hal ini terlihat saat membahas materi tentang pecahan sebagai bagian dari keseluruhan. Ketika memperkenalkan ide bilangan pecahan, guru tidak perlu langsung menulis notasi 1/2 di papan tulis. Guru bisa mulai dengan persoalan yang relevan dengan kehidupan murid, seperti ketika seorang anak memiliki satu roti untuk makan pagi yang harus dibagikan antara dua anggota keluarga. Selanjutnya, guru memberikan pertanyaan: Bagaimana caranya memotong roti itu sehingga setiap orang mendapatkan bagiannya secara adil?
Diawali dengan tahapan pertama, para siswa diberikan peluang untuk menyampaikan berbagai alternatif jawaban. Beberapa di antaranya menyarankan membagi roti menjadi dua potongan, sementara yang lain coba menjelaskan metode pemecahan masalah sesuai pendapat mereka sendiri. Aktivitas ini memiliki peranan penting dalam merangsang siswa untuk berpikir serta menyampaikan gagasan sebelum mendapatkan penjelasan dari guru. Selanjutnya, siswa bisa diberikan roti, kertas lipat, atau objek nyata lainnya guna mencoba menyelesaikan persoalan secara langsung.
Dengan melakukan kegiatan memecah dan memperbandingkan bagian-bagian, peserta didik belajar melalui pengalaman nyata. Mereka bisa menyadari bahwa sebuah objek utuh yang dipotong sama rata akan menghasilkan dua potongan dengan nilai yang sama. Ini merupakan tahapan enaktif menurut teori Bruner. Di fase ini, konsep tidak diajarkan secara resmi, namun mulai terbentuk berdasarkan pengalaman langsung yang dirasakan oleh siswa.
Setelah para siswa memahami kondisi tersebut, guru membimbing mereka untuk menyajikan pengalaman sebelumnya melalui ilustrasi. Roti yang sudah dipotong ditampilkan sebagai dua potongan yang sama ukurannya. Guru juga bisa memanfaatkan gambar objek-objek lain yang familiar bagi siswa, misalnya pizza, semangka, atau permen coklat. Fase ini disebut sebagai representasi ikonik, yakni saat pengalaman nyata diubah menjadi bentuk visual sehingga siswa mampu memahami keterkaitan antara suatu benda utuh dengan bagian-bagian penyusunnya.
Hanya setelah para siswa memahami arti dari operasi pembagian, guru kemudian memperkenalkan lambang matematika 1/2. Dalam tahapan simbolik ini, siswa mulai mengenali bentuk penulisan pecahan sebagai wujud dari satu bagian dari dua bagian yang ukurannya sama. Mengingat bahwa lambang ini muncul berdasarkan pengalaman nyata yang pernah mereka alami serta gambaran visual yang sudah dipahami, konsep bilangan pecahan bukan lagi sesuatu yang bersifat abstrak atau hanya bisa dihapal saja.
Kemudian pembelajaran bisa dilanjutkan dengan latihan soal numerasi yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, murid diajarkan untuk menentukan potongan pizza yang diberikan kepada anggota keluarga tertentu, menghitung sisa bagian kue setelah dibagi kepada sahabat, atau memperbandingkan ukuran berbagai jenis makanan yang memiliki bentuk berbeda. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya paham lambang bilangan pecahan, namun juga mampu menerapkan pemahaman itu di berbagai kondisi nyata.
Dengan pendekatan semacam ini, pembelajaran matematika bukan lagi terfokus pada penghapalan rumus, melainkan pada proses menciptakan pemahaman. Murid-murid belajar untuk menyambungkan pengalaman nyata dengan konsep-konsep yang bersifat abstrak secara perlahan dan sistematis. Mereka tidak hanya tahu langkah-langkah yang harus diambil, tapi juga paham alasannya mengapa suatu metode diterapkan. Ini merupakan esensi sejati dari literasi numerik.
Tidak diragukan lagi, perubahan dalam metode pengajaran seringkali sulit dilaksanakan. Para guru menghadapi tantangan seperti tujuan kurikulum, batasan waktu, variasi tingkat kemampuan peserta didik, serta kebutuhan administratif. Meskipun demikian, perubahan tidak selalu memerlukan langkah besar. Tindakan sederhana seperti menunda penyampaian rumus pada awal pelajaran, memberikan ruang bagi siswa untuk bereksplorasi sendiri, maupun mendorong mereka untuk melukiskan dan mendeskripsikan alur pemikiran bisa menjadi titik awal yang signifikan.
Akhirnya, hasil TKA harus dipandang sebagai dorongan untuk meningkatkan metode pembelajaran matematika pada tingkat Sekolah Dasar. Kemampuan numerasi tidak akan berkembang dengan baik bila matematika hanya diajarkan sebagai kumpulan rumus-rumus saja. Siswa perlu merasakan langsung, mengamati pola-pola, membuat gambaran, melakukan diskusi, dan kemudian menemukan arti dari lambang-lambang tersebut. Melalui proses ini, matematika menjadi sarana berpikir, bukan semata-mata pelajaran yang menimbulkan ketakutan.
Pendidikan yang bernilai tidak terletak pada kemampuan peserta didik untuk segera menghafalkan rumus, tetapi merupakan proses pembelajaran yang memberdayakan mereka untuk merenungkan arti dari tiap-tiap konsep serta menerapkannya secara cerdas dalam situasi nyata. Bila para pelajar belajar melalui pengalaman, gambaran visual, dan penafsiran yang sistematis, maka matematika akan kembali kepada esensinya sebagai alat pikir yang berguna bagi manusia dalam memahami lingkungan serta menentukan pilihan dengan lebih tepat. (*)
Posting Komentar