Kuliah Umum di SCU: Akademisi Filipina Pujai Riset Kampus Indonesia

Kuliah Umum di SCU: Akademisi Filipina Pujai Riset Kampus Indonesia

Semarang – Universitas-universitas di Indonesia disebut telah menunjukkan kemajuan dalam penelitian yang lebih baik dibandingkan beberapa perguruan tinggi di Filipina.

Penghargaan tersebut diungkapkan oleh dua dosen dari Universitas San Carlos (USC) Filipina saat menghadiri sebuah seminar publik yang dilaksanakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) Semarang, pada hari Rabu (10/6).

Dua dosen tersebut adalah Moanna Janica Senoc, M.B.A., yang berasal dari Departemen Administrasi Bisnis, serta Eleanor D. Paclijan, Ph.D., dari Departemen Akuntansi. Kedua orang ini menyampaikan materi kepada para mahasiswa Sarjana dan Magister Fakultas Ekonomi dan Bisnis SCU.

Eleanor menyampaikan bahwa sistem pendidikan serta kurikulum yang diterapkan di kedua negara hampir sama. Tetapi, dalam hal perkembangan riset, menurutnya perguruan tinggi di Indonesia sedang berkembang dengan cepat.

Saya memperhatikan bahwa program yang disediakan sangat mirip, serta metode penggunaan aplikasi dalam proses belajar pun hampir serupa. Namun dari sisi penelitian, saya melihat bahwa SCU jauh lebih berkembang, sehingga ini menjadi salah satu alasan kuat untuk menjalin kerja sama dalam bidang riset," ujarnya.

Evaluasi tersebut timbul setelah perwakilan USC menghadiri berbagai aktivitas akademis di SCU, seperti pertemuan dengan para dosen dan siswa magister.

Menurut Eleanor, pendekatan kewirausahaan masyarakat di Indonesia mempunyai kelebihan, karena lebih berfokus pada penguatan yang bertahan dalam waktu lama.

"Tidak hanya menyediakan dukungan, tapi juga mengajar warga agar bisa tumbuh dengan sendirinya," katanya.

Ia menyampaikan bahwa kerja sama antara universitas di Indonesia dengan Filiphina dipandang memiliki potensi untuk melahirkan riset yang lebih sesuai dengan kebutuhan wilayah Asia Tenggara.

Selain memiliki sifat sosial yang mirip, menurutnya, dua negara ini juga menghadapi kendala yang sama dalam bidang pembangunan ekonomi, keberlanjutan, serta penguatan komunitas.

Pendapat senada diungkapkan oleh Moanna, yang menganggap kolaborasi penelitian memberi kesempatan kepada para ilmuwan untuk membandingkan situasi sosial, ekonomi, serta tingkah laku masyarakat antar dua negara tersebut.

Ia berpendapat bahwa studi tentang perilaku konsumen serta keberlanjutan akan menjadi lebih mendalam apabila memadukan pandangan dari Indonesia dan Filipina secara bersamaan.

"Kami mengutamakan riset, dan saat ini sedang menjalin kerja sama untuk dapat membandingkan berbagai situasi serta tema penelitian antara Cebu dan Indonesia," ujarnya.

Vice Dean untuk Urusan Akademik, Penelitian, dan Kerjasama Fakultas Ekonomi dan Bisnis SCU, Ranto Partomuan Sihombing mengungkapkan bahwa keperluan kerja sama penelitian lintas negara kian mendesak sebab berbagai masalah sulit dimengerti hanya melalui sudut pandang satu negara saja.

Ia memberikan contoh tentang isu keberlanjutan atau sustainability yang saat ini mendapat perhatian dari kalangan bisnis global. "Respon masyarakat terhadap isu tersebut bisa berbeda di antara Indonesia dan Filipina, oleh karena itu diperlukan penelitian bersama," katanya.

Selain itu, pada acara kuliah umum tersebut, Moanna memperkenalkan topik tentang tingkah laku konsumen (consumer behavior), sedangkan Eleanor memberikan penjelasan mengenai proses pengambilan keputusan yang berkelanjutan (sustainable decision making).

Ranto menyampaikan bahwa pihaknya secara khusus membawa sudut pandang dari Filipina guna memberi para mahasiswa wawasan yang lebih luas dan meningkatkan pemahaman mereka tentang perubahan dalam dunia bisnis serta akuntansi di berbagai negara.

Selain melakukan penelitian, kunjungan para akademisi dari Filipina ke Jawa Tengah juga menunjukkan bahwa terdapat persamaan tantangan dalam pembangunan antara dua negara tersebut, khususnya di bidang pertanian serta penguatan masyarakat. (F Ariel Setiaputra)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama