ANTS - Dinas Pencegahan dan Pengurangan Bencana Kabupaten Lebak, Banten, telah mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko kekeringan di musim kemarau ini.
Salah satu masalah yang saat ini menjadi perhatian akan dampaknya adalah kekeringan air bersih. Berdasarkan pemetaan dari BPBD Lebak, terdapat sekitar 90 desa yang rentan mengalami kelangkaan air bersih.
"Kami waspada menghadapi musim kemarau dengan menyediakan layanan bagi warga, termasuk distribusi air minum," ujar Kepala BPBD Kabupaten Lebak Sukanta di Rangkasbitung, Senin (29/6), seperti dikutip dari Antara.
Oleh karena itu, pihak terkait menyediakan tiga kendaraan tangki yang masing-masing memiliki daya tampung sebesar 6.000 liter dalam rangka mengatasi krisis pasokan air bersih akibat cuaca kering pada musim kemarau.
Tiga mobil tanki tersebut kelak akan mendistribusikan pasokan air minum kepada daerah-daerah yang sedang menghadapi kemarau berkepanjangan.
Oleh karena itu, sambung Sukanta, pihaknya juga berkolaborasi dengan PDAM Lebak dalam menyediakan pasokan air minum.
Dia meminta warga Kabupaten Lebak yang sedang menghadapi krisis pasokan air minum untuk segera melaporkannya kepada BPBD melalui perwakilan atau kepala desa setempat. sehingga pihaknya dapat secepatnya melakukan persiapan pendistribusian air ke wilayah yang terkena dampak.
Pengadaan air minum oleh BPBD, Tutur Sukanta, dijamin tidak dikenakan biaya apa pun. Hal ini karena mereka telah bekerja sama dengan PDAM Lebak.
sebagai langkah persiapan jika kondisi kering berlanjut, mereka bekerja sama dengan BPBD Provinsi Banten serta perusahaanBUMN dalam menyediakan kendaraan pengangkut air yang siap didatangkan untuk mensuplai pasokan air minum.
Namun demikian, sampai saat ini mereka masih belum mendapatkan laporan tentang kejadian warga yang menghadapi kelangkaan pasokan air minum, meskipun musim kemarau telah berlangsung selama beberapa minggu belakangan ini.
Sebelumnya, masalah kekurangan pasokan air bersih selama musim kemarau terjadi di beberapa kecamatan.
Misalnya Kecamatan Sajira, Muncang, Cipanas, Cibadak, Warunggunung, Banjarsari, Cimarga, Cirinten, Bojongmanik, Cihara, Cilograng, Cileles, Gunungkencana, Maja, serta Wanasalam.
Sumber krisis pasokan air bersih, menurutnya, meliputi masyarakat yang tidak memiliki perangkat pompa air serta belum terjangkau oleh sistem PDAM.
Di samping itu, daerah-daerah tersebut juga tidak memiliki pasokan air bersih yang memadai melalui aliran sungai atau sumur air tanah.
Sukanta menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya meningkatkan langkah-langkah penanggulangan serta persiapan menghadapi bencana sepanjang musim kemarau.
Musim kering di Lebak tahun ini diperkirakan terjadi antara bulan Juni hingga Desember.
Selain mempersiapkan diri terhadap musim kemarau, BPBD juga tetap waspada terhadap ancaman kebakaran rumah penduduk maupun area hutan dan lahan, serta penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD), diare, pneumonia, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Kami juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan setempat dalam mengatasi penyakit menular agar tidak menyebabkan kejadian luar biasa (KLB," ujarnya menjelaskan.
Di sisi lain, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak Endang Komarudin mengajak warga untuk terus menjadikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai kebiasaan sehari-hari selama musim kemarau.
Maka sulit terkena berbagai penyakit menular, misalnya diare, demam berdarah dengue, serta muntah-diarrhea.
"Warga diminta untuk memelihara kebersihan lingkungan serta tidak melakukan BAB di aliran sungai atau kebun selama musim kemarau, lantaran dapat menyebabkan penyakit diare," ujar Endang.
Posting Komentar