Ubah Sampah Jadi Seni: Lukisan Diorama 3D dari Kayu Bekas by Seniman Ciamis

Ubah Sampah Jadi Seni: Lukisan Diorama 3D dari Kayu Bekas by Seniman Ciamis

Ringkasan Berita:
  • Pelukis asal Ciamis, Deni Hermawan berhasil memanfaatkan sisa-sisa kayu untuk menciptakan karya seni diorama berbentuk tiga dimensi yang memiliki nilai jual tinggi.
  • Dengan pendekatan seni mix media yang diterapkan oleh SeniKUSuluh, karya-karyanya menggabungkan gambar dan diorama sambil tetap menjaga bentuk asli dari bahan-bahan yang digunakan.
  • Karya yang menarik ini tersedia dengan harga mulai dari 200 ribu rupiah dan juga melayani pemesanan khusus berupa replika rumah lama milik pembeli.

Jurnalis ANTS, Ai Sani Nuraini

ANTS, CIAMIS – Kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dapat muncul dari barang-barang yang biasanya dinilai tidak memiliki manfaat. hal ini ditunjukkan oleh Deni Hermawan, seorang seniman asal Ciamis yang sukses merancang karya seni diorama 3D yang menarik dan bernilai jual dengan menggunakan kayu bekas serta beragam jenis limbah lainnya.

Dengan menggunakan merek SeniKUSuluh yang ia kelola di Gawe (Galeri Workshop dan Pendidikan), Deni menyajikan karya seni yang menggabungkan lukisan dengan diorama, menciptakan penampakan bertingkat yang berbeda dibandingkan lukisan biasa.

Ini disebut sebagai seni campuran, yaitu kombinasi antara gambar dan dioraman. Jadi, diorama yang pada umumnya berdiri sendiri, saya padukan dengan lukisan agar menghasilkan karya bertingkat tiga," kata Deni ketika diwawancarai di Galeri UMKM Ciamis, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, bahan pokok yang dipakai terbuat dari materi dasar yang sering ditemui dalam lingkungan sekitarnya.

Bahan-bahan seperti kayu tua, cabang pohon, serta beragam objek yang dianggap sebagai sampah diubah menjadi elemen utama dalam karyanya.

Deni mengakui bahwa ia tidak melakukan perubahan yang signifikan pada bahan-bahan itu.

Justru ia mempertahankan bentuk awalnya sehingga sifat alami dari bahan tersebut masih dapat dilihat.

"Materialnya berasal dari pencarian di sekitar rumah, aliran air, hutan, atau lokasi lain. Jika menemukan sesuatu yang tepat, langsung digabungkan. Proses potong atau bentuk kembali sangat sedikit," ujarnya.

Minatnya terhadap dunia seni miniatur telah berkembang sejak dulu.

Sebelum menggambar sebuah lukisan diorama, Deni terlebih dahulu mempelajari pembuatan model dan replika kecil.

Namun mulai bulan Desember 2024, dia memulai penekanan pada pengembangan konsep campuran media yang menyatukan elemen lukisan dengan diorama dalam sebuah karya.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah karya berbeda-beda sesuai dengan besar dan kompleksitasnya.

Sejumlah karya kecil dapat rampung dalam satu hari, sedangkan karya yang lebih rumit memerlukan durasi yang lebih panjang.

Harganya relatif murah untuk karya-karya yang disajikan. Ukuran kecil dihargai sekitar Rp200 ribu, sementara karya dengan ukuran lebih besar dan kompleks berada dalam rentang harga Rp300 ribu sampai Rp350 ribu.

Namun harganya juga menyesuaikan tingkat kesulitan serta besar kecilnya proses pembuatan karya berbentuk tiga dimensi itu.

Selain memperjualkan hasil karyanya yang telah selesai, Deni juga menerima permintaan khusus atau pesanan sesuai keinginan pelanggan.

Salah satu contoh yang pernah diciptakan ialah diorama rumah klien yang dirancang mirip dengan bangunan asli untuk menjadi kenang-kenangan.

"Biasanya kustom terlihat lebih menarik. Pernah ada orang yang memesan diorama rumah lamanya dan hasilnya dibuat seakurat mungkin dengan aslinya," katanya.

Setiap bulan, Deni dapat menghasilkan kurang lebih 15 karya. Tetapi dari angka itu, rata-rata yang berhasil dijual adalah antara empat sampai lima karya.

Ia mengatakan bahwa masyarakat lebih terbiasa dengan diorama kustom daripada konsep lukisan diorama campuran media yang saat ini sedang ia perkenalkan.

Namun, Deni tetap percaya bahwa karya seni yang menggunakan bahan limbah ini memiliki kesempatan besar untuk terus tumbuh dan berkembang.

Selain memberikan keindahan, karya ini membuktikan bahwa benda bekas bisa dimanfaatkan menjadi hasil seni yang bernilai komersial besar.

"Kami berharap dapat membuktikan bahwa sampah atau material yang dianggap tak berguna mampu diubah menjadi karya seni yang istimewa dan memiliki makna," tutupnya.(*) "Tujuan kami adalah memperlihatkan bahwa limbah atau benda yang dinilai tidak berguna bisa justru menjadi sebuah karya seni yang indah dan bernilai tinggi," ujarnya.(*) "Mereka ingin menyampaikan bahwa apa pun yang dianggap sebagai sampah atau barang bekas ternyata bisa dijadikan karya seni yang luar biasa dan berharga," katanya.(*) "Ingin kami tunjukkan bahwa sesuatu yang dipandang remeh seperti limbah atau bahan sisa bisa menjadi bentuk seni yang unik dan layak dihargai," tambahnya.(*) "Pernyataan itu menggambarkan keinginan untuk menegaskan bahwa apa saja yang dianggap tidak berguna bisa disulam menjadi karya seni yang menarik dan bernilai artistik," ungkapnya.(*) "Saya ingin menunjukkan bahwa limbah maupun materi yang dianggap tidak penting sebenarnya bisa menjadi karya seni yang sangat bernilai dan mencolok," kata dia.(*) "Dengan demikian, mereka ingin memberi tahu bahwa apa pun yang dilihat sebagai sampah atau bahan buangan bisa dikembangkan menjadi karya seni yang eksklusif dan berarti," imbuhnya.(*) "Mereka percaya bahwa segala hal yang terkesan sia-sia seperti limbah atau bahan-bahan lain bisa ditransformasi menjadi hasil seni yang luar biasa dan bermutu," ujar dia.(*) "Tidak semua benda yang tampak tidak berguna harus dibuang; bahkan bisa menjadi karya seni yang menawan dan bernilai estetika tinggi," lanjutnya.(*) "Ikhtiar ini bertujuan agar orang-orang sadar bahwa apapun yang diragukan manfaatnya, termasuk limbah atau bahan-bahan tertentu, bisa diwujudkan dalam bentuk seni yang unik dan berharga," tandasnya.(*).

Lihat berita-berita ANTS di Google News

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama