jateng.Ants SEMARANG - Beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Semarang, Jawa Tengah, menghadapi risiko kurangnya jumlah siswa baru dalam Seleksi Penerimaan Siswa Baru (SPPSB), SPMB ) tahun ajaran 2026/2027.
Pengamatan dari situs SPMB Kota Semarang pada hari Jumat (12/6) pukul 15.10 WIB menunjukkan bahwa ada beberapa Sekolah Dasar Negeri yang belum memiliki banyak calon siswa, sedangkan sebagian sekolah lain malah mengalami kelebihan jumlah pendaftar melebihi kapasitas yang telah ditentukan.
Berdasarkan informasi yang tersedia, SDN Karangtempel memiliki sebanyak 20 calon siswa yang terdaftar dari total kuota sebanyak 28 peserta didik. Angka ini terbagi menjadi 11 orang yang mendaftar melalui jalur kependudukan serta 9 orang yang mengajukan diri lewat jalur afirmatif.
Di sisi lain, SDN Bugangan 02 mendapat sebanyak 17 calon siswa, yaitu 13 anak melalui jalur kependudukan serta empat peserta melalui jalur afirmasi dari total kuota 28 siswa.
Keadaan yang sama juga dialami oleh SDN Wonodri, yang hanya mendapatkan sembilan calon siswa dari kuota sebanyak 26 anak. Dari angka itu, tujuh siswa mengajukan diri lewat jalur kependudukan dan dua orang lainnya melalui jalur afirmasi.
Di sisi lain, beberapa sekolah menjadi incaran dan memiliki jumlah calon siswa yang melebihi kapasitas. Seperti contohnya SDN Sendangmulyo 01, yang menerima 235 pendaftar dengan kuota hanya untuk 112 siswa. Angka ini terdiri dari 213 siswa melalui jalur tempat tinggal, 20 siswa lewat jalur afirmasi, serta dua siswa berdasarkan jalur perpindahan.
Selanjutnya, SDN Bangetayu Wetan 02 menerima sebanyak 257 calon siswa dari total kuota yang tersedia untuk 84 anak. Rincian jumlah tersebut terdiri atas 201 peserta didik melalui jalur kependudukan, 55 peserta didik berdasarkan jalur afirmasi, serta satu orang pelajar melalui jalur transfer.
Kepala Divisi Pengembangan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Semarang Aji Nur Setiawan menyampaikan bahwa saat ini belum bisa melakukan tindakan terhadap sekolah yang kekurangan siswa lantaran proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) masih berjalan dan para orang tua tetap diberikan kesempatan untuk merubah pilihannya dalam mendaftar Sekolah.
"Kami saat ini belum dapat membuat keputusan apa pun karena orang tua siswa masih diizinkan untuk memindahkan anak mereka ke sekolah lain jika memang tidak diterima," ujar Aji kepada Ants, Jumat (12/6).
Ia mengatakan, penurunan minat pada beberapa Sekolah Negeri sering kali terjadi di area pusat Kota Semarang. Keadaan ini disebabkan oleh pergeseran komposisi populasi serta meningkatnya biaya lahan di kawasan perkotaan.
"Secara umum, harga lahan di pusat kota cukup tinggi. Pasangan muda biasanya lebih memilih tinggal di wilayah luar kota. Mereka yang berada di pusat kota sebagian besar adalah keluarga dengan anggota tua atau belum memiliki anak yang masuk usia sekolah," katanya.
Mereka saat ini tidak berencana untuk menghentikan operasi sekolah umum yang memiliki jumlah siswa baru yang rendah. Hal ini karena kehadiran sekolah-sekolah tersebut masih diperlukan oleh masyarakat, khususnya di daerah-daerah dengan jumlah sekolah negri yang terbatas.
"Bila ada rekomendasi untuk menutup sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit, kami merasa sulit melakukannya. Khususnya di wilayah dimana sekolah negeri tidak banyak atau bahkan cuma satu saja. Menyedihkan bagi warga yang kondisi keuangannya terbatas karena harus mengirimkan anak mereka ke sekolah yang jaraknya cukup jauh," ujarnya.
Mereka masih menantikan arahan dari Kementerian Pendidikan, Dasar, dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait potensi pembukaan pendaftaran siswa di luar waktu SPMB.
"Bila kelak diberi izin menerima siswa di luar masa SPMB khusus bagi sekolah yang jumlah peserta didiknya sedikit, pasti kita ambil langkah tersebut. Menyesal jika kuota yang ada tidak terpakai dan hanya berstatus kosong," kata Aji.
Sebagai tambahan informasi, penyelenggaraan SPMB Kota Semarang untuk tahun ajaran 2026/2027 dilaksanakan dari tanggal 8 sampai dengan 12 Juni 2026. (ink/jpnn)
Posting Komentar