Ramalan cuaca Jawa Tengah pada hari Sabtu tanggal 13 Juni 2026 besok, diprediksi akan terjadi hujan disertai petir di 14 kabupaten.
Ants, SEMARANG - Praktikum peramalan cuaca untuk Jawa Tengah (Jateng) pada hari Sabtu tanggal 13 Juni tahun 2026 yang akan datang.
Di seluruh wilayah Jawa Tengah yang terdiri dari 35 kabupaten dan kota, esok hari akan turun hujan lebat yang menjadi dominasi, tercatat terjadi di 21 daerah.
Selebihnya 14 daerah diperkirakan mengalami hujan disertai kilat.
Walaupun telah memasuki musim kemarau, terdapat tiga daerah yang diperkirakan akan mengalami hujan badai.
Berikut beberapa informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang.
Untuk menghindari gangguan dalam kegiatan, siapkan dirimu dengan maksimal.
Berikut adalah perkiraan kondisi cuaca yang detail untuk besok:
Hujan Disertai Petir
- Banjarnegara
- Banyumas
- Batang
- Brebes
- Karanganyar
- Kendal
- Klaten
- Magelang
- Pemalang
- Purbalingga
- Tegal
- Temanggung
- Wonogiri
- Wonosobo
Hujan Ringan
- Blora
- Boyolali
- Cilacap
- Demak
- Grobogan
- Jepara
- Kebumen
- Kota Magelang
- Kota Pekalongan
- Kota Salatiga
- Kota Semarang
- Kota Surakarta
- Kota Tegal
- Kudus
- Pati
- Pekalongan
- Purworejo
- Rembang
- Semarang
- Sragen
- Sukoharjo
Suhu atmosfer berkisar antara 16 derajat Celsius sampai 31 derajat Celsius.
Kecepatan angin rerata berkisar dari 3 kilometer per jam sampai dengan 9 kilometer per jam.
Puncak Kemarau di Jateng
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengatakan bahwa musim kemarau mencapai titik tertinggi di Jawa Tengah pada bulan Agustus hingga September tahun 2026.
Pemprov Jawa Tengah menyatakan sudah menyiapkan total 123 juta liter air minum di 18 kabupaten/kota yang rawan risiko kekeringan. Akan tetapi, pendistribusian air tersebut menghadapi tantangan akibat naiknya tarif Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak subsidi.
Kepala Dinas Pencegahan dan Pengurangan Bencana Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan menyampaikan bahwa tersedia 123 juta liter air minum yang siap disalurkan. Saat ini pihaknya sedang melaksanakan pemetaan serta persiapan peralatan pendistribusian.
"Pihak kami masih meneliti serta menghitung mengenai biaya pendistribusian karena telah terjadi peningkatan harga bahan bakar minyak yang tidak subsidi," ujarnya saat rapat koordinasi pengendalian operasional kegiatan (POK) triwulan pertama tahun 2026, di Gedung Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, dalam pernyataan resmi, Senin (4 Mei 2026).
Dia mengatakan, informasi dari BMKG menunjukkan dampak El Nino pada tahun 2026 akan menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang di Jawa Tengah.
Ancaman kekeringan pada tahun ini diperkirakan hampir sama dengan musim kemarau yang sangat parah pada tahun 2019 dan 2023.
Oleh karena itu, mereka sudah melakukan pemetaan terkait ketersediaan air di Jawa Tengah yang diperkirakan sebesar 123 juta liter air.
"Pada bulan Juni berikutnya, kemarau mulai muncul di Jawa Tengah," katanya.
Klaten Menyimpan Persediaan Air Terbanyak Klaten Memiliki Cadangan Air Paling Banyak Klaten Jadi Daerah dengan Pasokan Air Terbesar Klaten Ternama Karena Kelebihan Stok Airnya Klaten Mengakui Dominasi dalam Penyediaan Air Klaten Dikenal sebagai Wilayah yang Punya Sumber Air Melimpah Klaten Unggul dalam Pengelolaan dan Distribusi Air Klaten Mempunyai Suplai Air terBanyak di Sekitarannya Klaten Dianggap Sebagai Sentra Persediaan Air yang Besar Klaten Berkontribusi Signifikan pada Ketersediaan Air Area sekitarnya
Bergas menjelaskan, ketersediaan air minum di Jawa Tengah terbesar berada di Klaten dengan jumlah sekitar 57,6 juta liter, kemudian Boyolali menyumbangkan 13,4 juta liter, Kabupaten Semarang 12,9 juta liter, Blora 5,1 juta liter, Purworejo 5,06 juta liter, Wonosobo 5 juta liter, Purbalingga 4,4 juta liter, Wonogiri 3,7 juta liter, Banjarnegara 3,6 juta liter, dan Grobogan 3,1 juta liter.
Di sisi lain, pasokan air yang dilaporkan paling rendah adalah di Batang sebesar 331.000 liter, Salatiga sebanyak 250.000 liter, Demak dengan 150.000 liter, dan Kabupaten Pekalongan mencatatkan 80.000 liter.
Banyak wilayah yang belum menyampaikan laporan mengenai ketersediaan air karena dianggap tidak pernah mengalami dampak.
"Tentu saja seperti Kota Solo dan Kota Magelang," katanya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa masalah kekeringan akan ditangani secara kolaboratif, termasuk bekerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah (BUMD).
"Pihak kami akan melakukan koordinasi kembali, termasuk melibatkan sejumlah BUMD yang akan kami siapkan sehingga dampak musim kemarau dapat diminimalisir serta pengaruh terhadap ketahanan pangan bisa berkurang," ujarnya. (*)
Posting Komentar