DALAM Sekarang ini, Kurikulum Merdeka yang diterapkan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah memiliki sebuah konsep yang menarik untuk dibahas, yaitu Profil Pelajar Pancasila (P3).
Kata-kata itu menggambarkan cita-cita tinggi yang bertujuan menciptakan peserta didik yang terus belajar seumur hidup melalui pemahaman kompetensi dunia serta sikap yang selaras dengan nilai-nilai mulia Pancasila.
Keberadaannya muncul sebagai upaya Kementerian Pendidikan dan Budaya dalam merumuskan visi pendidikan nasional yang lebih menyeluruh, fokus pada pengembangan kepribadian serta kesesuaiannya terhadap tantangan masa kini.
Dari segi konsep, Profil Pelajar Pancasila terdiri dari enam aspek yang saling melengkapi.
Memulai dari dimensi (i) Percaya, yang berfokus pada pemantapan keimanan serta nilai-nilai etika, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.
Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Dimensi kedua, yaitu Keberagaman Global, mengharuskan siswa untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan yang tinggi dari bangsanya sambil tetap menerima dan terbuka terhadap budaya-budaya lain. 2. Dalam dimensi (ii), yakni Multikulturalisme Global, peserta didik diwajibkan untuk melestarikan adat istiadat leluhur sekaligus bersikap terbuka terhadap pengaruh-pengaruh budaya asing. 3. Pada dimensi (ii) berupa Keterbukaan Budaya Global, murid dituntut agar dapat memelihara tradisi nenek moyang serta tidak tertutup terhadap perbedaan budaya yang ada di dunia ini. 4. Selain itu, dalam dimensi (ii) bernama Keragaman Dunia, para pelajar harus bisa menjunjung tinggi budaya nasional tanpa melupakan kesediaannya untuk menerima aneka ragam budaya lain. 5. Untuk dimensi (ii) yang dikenal sebagai Perkembangan Budaya Global, siswa wajib menjaga warisan budaya bangsa mereka sembari tetap responsif terhadap perkembangan budaya internasional.
Kemampuan berkolaborasi dengan ikhlas guna mewujudkan tujuan yang sama dapat ditemukan pada dimensi (iii) Gotong royong. Kemampuan belajar mandiri serta tanggung jawab terhadap jalannya dan hasil pembelajaran tampak pada dimensi (iv) Mandiri.
Di samping itu, siswa diharuskan mengolah informasi secara objektif, menganalisis, serta menilai informasi tersebut dengan menggunakan dimensi (v) Berpikir Kritis.
Akhirnya, (vi) Kreatif, memicu siswa untuk menciptakan ide, karya, dan langkah-langkah yang unik, berguna, serta memberikan dampak baik terhadap lingkungan di sekitarnya.
Secara teori, profil siswa Pancasila tampak sangat sempurna.
Ada enam dimensi yang disajikan dianggap mampu mencerminkan keseimbangan antara unsur-unsur kejiwaan, sosial, dan intelektual.
Bukan hanya menitikberatkan pada sisi akademis saja, tetapi juga pada perilaku serta keimanan. Namun ketika diterapkan, apakah berlangsung lancar tanpa kendala? Jelas tidak.
Banyak rintangan dan kesulitan ikut menyertai proses ini. Seperti mendaki, profil pelajar Pancasila perlu melewati jalur curam yang tidak pernah berhenti. Diperlukan ketangguhan, kekuatan, serta kemampuan pengambilan keputusan dalam menjalani perjalanan menuju puncak. Penerapan praktisnya di lapangan menghadapi sejumlah tantangan nyata, seperti masalah sumber daya manusia guru, dominannya paradigma kognitif, kondisi infrastruktur, sampai pada budaya lingkungan sekolah.
Salah satu masalah utama yang menjadi hambatan dalam penerapan P5 ialah tenaga pendidik.
Tidak dapat dipungkiri, masih terdapat banyak guru yang mengalami kendala dalam menyusun pembelajaran berbasis proyek (P5) yang sungguh-sungguh bernilai.
Tentu saja, proyek yang dimaksud tidak semata-mata bertujuan untuk menghasilkan barang berwujud. Namun lebih dari itu, bagaimana proyek ini kelak mampu menjadi jawaban terhadap tantangan nyata di sekitar kita.
Pada momen penting ini, proses belajar yang disusun oleh guru perlu memiliki hubungan erat dengan situasi sosial sekarang. Bukan sekadar fokus pada aspek konseptual, melainkan mengarahkannya ke dunia nyata yang lebih bersifat kontekstual.
Masalah berikutnya ialah dominannya pola pikir kognitif di kalangan pendidik dan peserta didik.
Cara ini menekankan keberhasilan akademis lebih dari pada perkembangan kepribadian menyeluruh seperti kerja sama dan kemampuan mandiri.
Sebagai akibatnya, guru seringkali mengalami keterikatan pada kebiasaan guna memperoleh nilai dan kelengkapan materi.
Situasi ini bisa menghasilkan suasana pembelajaran yang bersaing tetapi cenderung individualistis.
Intelegensi dihargai sangat tinggi, sementara etika, empati, serta nilai-nilai sosial jarang mendapat perhatian.
Jika tidak ada perubahan dalam perspektif yang digunakan, ekspresi P5 hanyalah terbatas pada dimensi kognitif saja. Tak dapat membentuk daya tahan moral serta rasa empati sosial dalam lingkungan masyarakat.
Di pihak lain, pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pasti membutuhkan sumber daya serta sarana penunjang.
Masalah umum dalam sistem pendidikan kita adalah ketidakmerataan penyediaan sarana pendukung pembelajaran. Sekolah yang berada di wilayah perkotaan biasanya memiliki peralatan dan infrastruktur yang lengkap serta mutakhir. Sebaliknya, sekolah di area terpencil jarang memperoleh fasilitas yang setara.
Sama-samanya hanya untuk ruangan kelas pun, masih terdapat banyak yang tidak memadai.
Fasilitas yang terlengkap pasti akan membantu guru dalam mengembangkan kreativitas pengajaran yang mendukung P5.
Bandigkanlah dengan sekolah yang berada di wilayah terpencil, pinggir kota, atau 3T (Terbelakang, Paling Depan, dan Paling Jauh), contohnya.
Mereka terkadang menghadapi berbagai kendala dalam hal fasilitas pokok, kondisi ruangan yang tidak memadai, kurangnya pasokan listrik, belum lagi kekurangan alat teknologi digital.
Suatu kejanggalan yang terjadi meskipun pemerintah berupaya memberikan fasilitas pendidikan kepada seluruh putra-putri bangsa.
Di tingkat penerapan, menciptakan Profil Pelajar Pancasila memerlukan keterlibatan aktif serta kerja sama yang baik dari sekolah, para orang tua, dan lingkungan masyarakat. Akan tetapi dalam kenyataannya, hal tersebut terkadang masih tidak berjalan secara sejalan.
Akibatnya, penerapan nilai-nilai karakter di sekolah tidak terus dilanjutkan atau justru bertentangan dengan kebiasaan yang diterapkan di rumah serta lingkungan masyarakat. Ketidakselarasan ini menyebabkan perpecahan dalam proses pendidikan anak-anak.
Guru berupaya membentuk kebiasaan mandiri serta nilai moral, namun kondisi di sekitar justru tidak memberikan dukungan, malah mengabaikannya.
Tanpa ada kerja sama dan kesepakatan bersama yang kuat, penciptaan ciri siswa yang berpikir kritis, kreatif, serta saling membantu akan sangat sulit tercapai.
Merupakan hal yang sulit untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dalam kondisi pendidikan masa kini, karena jalannya penuh dengan rintangan dan kesulitan. Berbagai tantangan nyata seperti yang telah disebutkan di atas, bisa menjadi hambatan yang tak boleh dibiarkan begitu saja.
Namun demikian, jalannya yang sulit bukan menjadi alasan untuk berhenti maju. Peribahasa menyebutkan 'jika ada keinginan maka akan ditemukan jalan.'
Oleh karena itu, semua pihak perlu mampu mengatasi sifat individualisme serta bekerja sama guna membangun fondasi karakter di P5. Inisiatif transformasional ini tidak hanya menjadi tanggung jawab guru atau sekolah semata. Tetapi, keberhasilannya bisa tercapai apabila terdapat kesadaran bersama untuk saling melibatkan diri, berkolaborasi, dan bergerak secara sinergis.
Sekolah berperan sebagai motor perubahan, orang tua sebagai penyelaras, sedangkan masyarakat dan pemerintah menjadi pelaku pendukung yang memberikan sarana.
Bila hal tersebut dapat diwujudkan, Indonesia akan memperoleh bekal yang sangat besar dalam mengubah dirinya menjadi sebuah negara maju sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045.
Posting Komentar