Serangan AS ke Radar Iran Picu Ketegangan di Selat Hormuz

Serangan AS ke Radar Iran Picu Ketegangan di Selat Hormuz

Ringkasan Berita:
  • Pasukan AS menyerang fasilitas radar Iran di Goruk serta Pulau Qeshm setelah menyatakan telah mendeteksi ancaman pesawat tak berawak dari Iran di Selat Hormuz yang disebut memperburuk kondisi lalu lintas laut global maupun kapal-kapal pengangkut minyak dunia.
  • Setelah serangan Amerika Serikat, Pasukan Pengawal Revolusi Islam mengklaim telah menyerang "basis lawan" di wilayah Teluk, menyebabkan kembali memburuknya hubungan antara dua negara tersebut.
  • Ketegangan terkini memperburuk kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang bisa membawa dampak negatif bagi kestabilan di kawasan Teluk.

ANTS Tensi di kawasan Teluk Persia memburuk lagi setelah pasukan Amerika Serikat (AS) melakukan penyerangan terhadap fasilitas penginderaan milik Iran di bagian selatan negeri itu, pada hari Sabtu (6 Juni 2026).

Selain itu, Amerika Serikat juga melakukan serangan terhadap instalasi radar pemantauan pesisir Iran yang terletak di Kota Gorgon dan Pulau Qeshm.

Berdasarkan laporan dari Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM, mereka menyatakan bahwa pasukan mereka melaksanakan operasi militer pada hari Jumat (5 Juni 2026), setelah mengetahui adanya ancaman dari pesawat tanpa awak Iran yang menuju Selat Hormuz.

AS menyatakan bahwa pesawat tak berawak tersebut bisa menimbulkan ancaman bagi lalu lintas kapal di wilayah Teluk, khususnya kapal niaga serta tangki minyak international yang melewati rute penting ini.

Oleh karena itu, angkatan bersenjata Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas radar pengintaian pesisir Iran yang berada di Goruk serta Pulau Qeshm.

"Drone tempur ini membawa ancaman langsung terhadap lalu lintas laut di kawasan," begitu bunyi pernyataan CENTCOM, yang dikutip dari Lemonde.

Selain pertimbangan keamanan laut, serangan tersebut juga berhubungan dengan menurunnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran selama beberapa bulan belakangan, walaupun keduanya pernah sepakat untuk menghentikan penggunaan senjata sejak tanggal 8 April.

Kebisingan Meledak Di Daerah Selatan Iran

Setelah Amerika Serikat mengakui bahwa serangan terhadap fasilitas radar di Iran dilakukan oleh pasukan militer mereka, kondisi ketahanan di wilayah Teluk segera memburuk.

Lembaga media pemerintah Iran, IRIB, menyampaikan bahwa beberapa suara letupan terdengar di kawasan Sirik, bagian selatan negara tersebut, pada pagi hari Jumat sekitar jam 02.30 waktu lokal.

Daerah Sirik dikenal terletak dekat beberapa titik penting militer Iran yang berada di tepi teluk.

Penduduk lokal menyatakan telah mendengar bunyi gemuruh kuat berkali-kali dalam rentang waktu dekat. Setelah terdengarnya letusan tersebut, kegiatan militer Iran di daerah selatan dikabarkan semakin intensif, termasuk perpindahan pasukan serta peningkatan patroli di area pesisir.

Tensi mulai meningkat tajam setelah pasukan Revolusi Islam Iran menyatakan akan melakukan pembalasan dengan menyerang "basis lawan" di wilayah Teluk. Pengumuman ini datang beberapa saat setelah AS mengonfirmasi kegiatan militer mereka terhadap lokasi radar Iran.

Di dalam pernyataan yang ditayangkan oleh stasiun TV pemerintah IRIB, Pasukan Pengawal Revolusi Islam mengklaim bahwa tentara Amerika melakukan serangan terhadap Kepulauan Sirik dan Qeshm, yang dianggap sebagai penyebab jatuhnya korban jiwa warga sipil.

"Setelah serangan pasukan Amerika Serikat yang menewaskan anak-anak serta teroris di Pulau Sirik dan Qeshm, basis lawan di kawasan itu diserang dengan roket udara," begitu pernyataan Garda Revolusi Iran.

Namun demikian, sampai saat ini masih belum diberikan keterangan tambahan terkait lokasi basis yang jadi sasaran serangan balasan serta besarnya kerusakan yang diakibatkan.

Kondisi di wilayah Teluk tetap memburuk seiring dengan semakin memanasnya perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran.

Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Berisiko Gagalkan Pembekuan senjata antara AS dan Iran Menghadapi Ancaman Kegagalan Kemungkinan Gagalnya Kesepakatan Senjata Antara Amerika Serikat dengan Iran Meningkat Tensi Tidak Menurun, Perjanjian Senjata AS-Iran Terancam Batal Negosiasi Damai Antar Negara Ini Dihantui Risiko Keberhasilan yang Rendah Ancaman Pecahnya Kesepakatan Militer di Antara Negeri Besar ini Semakin Nyata Potensi Kegagalan Perjanjian Persenjataan Antara Amerika dan Iran Makin Tinggi Hambatan dalam Diskusi Diplomasi Memperparah Ketidakpastian Kesepakatan Senjata AS-Iran Isu Kebangkrutan Perundingan Antara dua Bangsa Ini Mulai Berkembang Risiko Jatuhnya Perjanjian Bersenjata antara Pasukan Amerika dan Iran semakin Mendesak

Perselisihan paling baru antara Amerika Serikat dengan Iran menggambarkan bahwa perjanjian damai yang sudah berlangsung sejak bulan April tetap bersifat rentan.

Walaupun dua negara pernah sepakat menghentikan sementara perselisihan, usaha diplomatik dalam meraih damai abadi sampai saat ini masih belum memberi hasil yang nyata.

Kondisi di wilayah Teluk dan Samudra Oman tetap penuh dengan ketegangan. Amerika Serikat dan Iran saling mengklaim telah melakukan tindakan militer yang dianggap bisa merusak stabilitas keamanan daerah tersebut.

Pada hari Jumat sebelumnya, tentara Iran menyatakan bahwa mereka melepaskan "misil peringatan" menuju dua kapal perang AS yang sedang berada di Laut Oman.

Namun, pernyataan itu segera ditolak oleh pihak militer Amerika Serikat dengan mengklaim bahwa tidak ada penyerangan terhadap kapal mereka.

Sementara ketegangan semakin memuncak, Kuwait juga menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menangkis sekitar 30 roket balistik.

Pihak pemerintah Kuwait menilai serangan itu sebagai bagian dari "kemarahan Iran" yang membahayakan kestabilan wilayah.

Peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran saat ini menimbulkan kecemasan di kalangan komunitas global.

Berbagai kalangan menganggap kondisi ini memiliki pengaruh signifikan terhadap kestabilan dunia, khususnya di bidang ekonomi dan energi internasional.

Selat Hormuz terletak di wilayah yang sedang mengalami perselisihan dan menjadi rute penting untuk pendistribusian minyak global.

Bila tekanan semakin memuncak, harganya minyak global diprediksi akan melonjak karena gangguan pada jalur distribusi energi internasional.

Selain itu, beberapa negara di wilayah Teluk saat ini sedang memperkuat persiapan militer mereka guna mencegah potensi serangan berikutnya.

Penjagaan di sejumlah tempat kritis seperti pelabuhan serta markas tentara juga dikatakan semakin ketat.

Para pengamat global menganggap situasi sekarang sangat membahayakan karena sedikitnya kesalahan bisa memicu perpecahan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Komunitas global saat ini sedang mengamati tindakan berikutnya dari Amerika Serikat dan Iran, apakah kedua pihak akan melanjutkan pembicaraan perdamaian atau malah memperbesar perselisihan yang sudah berlangsung beberapa bulan belakangan.

(ANTS/ Namira)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama