Jakarta, IDN Times - Di suatu pojok Kecamatan Lombok Timur, SDN 1 Teros sedang mengalami transformasi signifikan dalam pandangan terhadap sistem pembelajaran. Sekolah yang berlokasi di daerah timur pulau tersebut sekarang menjadi salah satu teladan bagaimana penggunaan data dapat membantu memastikan setiap siswa tetap mendapat perhatian selama proses belajar-mengajar.
Perubahan dimulai saat sekolah memperkenalkan Profil Belajar Siswa (PBS), yaitu suatu alat pengukuran yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Kementerian Agama serta didukung oleh Proyek INOVASI. Dengan menggunakan alat ini, sekolah mampu menemukan kendala dalam proses pembelajaran siswa secara lebih spesifik.
Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Teros, Baiq Suriatun, mengaku bahwa sebelum mengetahui PBS, pihak sekolah merasa kewalahan dalam memahami kebutuhan murid yang menghadapi kendala dalam pembelajaran.
"Sebelum kami memahami PBS, kami tidak menyadari apakah anak ini memiliki keterbatasan tertentu atau tidak, lalu bagaimana cara menghadapinya juga belum kami ketahui," katanya, Rabu (10/6/2026).
Keadaan ini menimbulkan tantangan khusus mengingat setiap tahun Sekolah Dasar Negeri 1 Teros menerima murid yang memiliki berbagai macam kebutuhan pembelajaran. Di pihak lain, beberapa siswa tidak tinggal bersama kedua orang tua mereka, karena dibesarkan oleh anggota keluarga saat orang tua bekerja di luar wilayah atau bahkan luar negeri.
Ia mengatakan bahwa kondisi ini menyebabkan sekolah memerlukan bantuan dari berbagai pihak agar penyelenggaraan pendidikan yang bersifat inklusif bisa terus berlangsung dengan baik.
1. Mulai dari pengenalan siswa hingga evaluasi psikologi
Inisiatif perubahan dimulai sejak awal tahun 2025 saat SDN 1 Teros menerapkan aplikasi PBS untuk menggambarkan situasi pembelajaran semua murid. Dari hasil tersebut, sekolah berhasil mengidentifikasi 59 siswa dengan tujuh macam kendala dalam proses belajarnya.
Penemuan tersebut selanjutnya bukan hanya sekadar angka statistik. Sekolah terus melakukan proses pengidentifikasian dengan menggunakan sistem pemilahan bertingkat yang mencakup para guru, ahli pendidikan, petugas kesehatan, sampai psikolog.
Di tahap awal, guru kelas serta guru bidang studi melaksanakan pengenalan dengan memakai PBS. Data yang diperoleh dari dua sumber ini selanjutnya dikombinasikan agar mendapatkan pemetaan yang lebih tepat.
"Dilaksanakan oleh guru kelas maupun guru bidang studi. Mengapa dua orang guru ini harus melakukannya secara bersamaan? Karena saya menginginkan data yang benar-benar nyata," ujar pengawas sekolah tersebut.
Sebanyak 59 siswa yang telah diidentifikasi dalam tahap pertama selanjutnya memasuki tahap kedua dengan keterlibatan para dosen dari Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Hamzanwadi. Dalam hasil tersebut, ada 27 siswa yang dianggap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari teks yang diberikan: 1. Pada tahap selanjutnya, yaitu tahap ketiga, dilaksanakan penilaian serta pengamatan oleh seorang psikolog. Melalui serangkaian proses ini, sembilan siswa diidentifikasikan sebagai peserta didik disabilitas yang menghadapi berbagai keterbatasan fungsi. 2. Selanjutnya, dalam langkah ketiga, psikolog melakukan evaluasi dan pemantauan. Hasil dari keseluruhan prosedur tersebut menunjukkan bahwa ada sembilan siswa yang dikategorikan sebagai peserta didik dengan disabilitas dan memiliki gangguan fungsional tertentu. 3. Di tahap ketiga, pihak psikolog melangsungkan wawancara dan pengamatan. Setelah melewati rangkaian kegiatan tersebut, sembilan siswa ditetapkan sebagai peserta didik difabel yang menderita berbagai kendala dalam fungsi tubuh atau mental mereka. 4. Tahap berikutnya yakni tahap ketiga mencakup uji coba dan pantauan oleh ahli psikologi. Berdasarkan hasil proses itu, sebanyak sembilan siswa ternyata termasuk dalam kelompok peserta didik dengan kondisi disabilitas dan bermacam-macam keterbatasan fungsi. 5. Pada fase ketiga, psikolog menjalankan survei dan monitoring. Seiring dengan hal tersebut, sembilan siswa berhasil dipastikan menjadi peserta didik dengan disabilitas dan mempunyai aneka macam tantangan dalam kemampuan fungsional mereka.
Penemuan menarik lainnya ialah seorang anak bisa saja menghadapi beberapa jenis kesulitan belajar. Seorang pengawas sekolah memberikan contoh seorang murid yang pada awalnya hanya didiagnosis menderita gangguan penglihatan, namun setelah dilakukan penilaian menyeluruh ternyata juga mengalami kendala kognitif seperti disleksia atau kesulitan dalam memahami bacaan.
"Maka kemungkinan melalui temuan ini kita dapat menyimpulkan bahwa seorang siswa dapat menghadapi lebih dari satu kendala fungisional," katanya.
2. Kerja sama antara guru, psikolog serta pusat kesehatan masyarakat
Basis data PBS kemudian memicu terbentuknya kerja sama antar sektor yang sebelumnya tidak pernah dijalankan oleh sekolah. Saat diketahui ada 11 siswa mengalami gangguan penglihatan, sekolah segera bekerja sama dengan Puskesmas Labuhan Haji dalam melakukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut. Data PBS akhirnya membuka jalan bagi adanya kolaborasi lintas sektor yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh sekolah. Setelah menemukan 11 siswa memiliki kendala pada penglihatannya, sekolah langsung menjalin koordinasi dengan Puskesmas Labuhan Haji guna melaksanakan pemeriksaan kesehatan tambahan. PBS kemudian menjadi awal mula dari kolaborasi lintas sector yang sebelumnya tidak pernah dicoba oleh sekolah. Ketika ditemukan 11 siswa mengalami kesulitan penglihatan, sekolah cepat bertindak dengan berkonsultasi ke Puskesmas Labuhan Haji untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.
Temuan hasil pemeriksaan sesuai dengan informasi dari PBS. Dari total tersebut, enam murid diidentifikasi perlu menggunakan alat bantu penglihatan. Lima orang akhirnya mendapatkan bantuan kaca mata secara gratis, sedangkan satu siswa memutuskan untuk membelinya sendiri karena berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan finansial.
Di luar bidang kesehatan, Universitas Hamzanwadi ikut berpartisipasi dengan bantuan tim pengajar pendidikan khusus yang tak sekadar mengidentifikasi masalah, namun juga menyarankan cara penyelesaian.
"Para dosen itu tidak hanya membantu mengidentifikasi masalahnya, tapi juga memberi kami pengobatan serta solusi untuk mengelola anak ini," katanya.
Saran ini selanjutnya disampaikan kepada para orang tua sehingga bimbingan tidak hanya dilaksanakan di sekolah, namun juga terus berlangsung di lingkungan keluarga.
Di sisi lain, Pusat Penelitian Lombok (PLB) memberikan bimbingan kepada keluarga melalui program parenting Untuk meningkatkan sistem pengasuhan terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar, pihak desa turut berpartisipasi dengan menyediakan dana untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih nyaman bagi para disabilitas.
Berdasarkan pandangan pengawas sekolah, kerja sama ini menyebabkan para guru tidak lagi merasa bekerja secara mandiri saat menghadapi tantangan pendidikan yang inklusif.
"Ini adalah permasalahan kami semua, mari kita selesaikan bersama," kata dia.
3. Pendukung Inovasi dan perubahan metode pengajaran
Proses pembangunan SDN 1 Teros menjadi sekolah inklusif tak dapat dipisahkan dari bantuan Program INOVASI yang telah lama membantu sekolah tersebut. Ia mengungkapkan pernah merasa kewalahan saat hasil PBS menunjukkan sejumlah besar murid menghadapi kesulitan dalam belajar. Akan tetapi situasi itu berubah setelah berbagai pihak aktif terlibat dalam penanganan dan pendampingan.
"Karena ketika melakukan PBS, sebanyak itu siswa kami yang diketahui memiliki kendala, membuat kami kebingungan harus bagaimana. Pada titik ini INOVASI datang, memberi kesamaan kepada kami, serta memperkuat kami," ujarnya.
Dengan adanya program ini, para guru memperoleh beragam pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyediakan layanan pendidikan yang bersifat inklusif. Para guru juga telah mulai mengimplementasikan pengajaran yang bervariasi, yaitu dengan menyesuaikan isi materi, cara penyampaian belajar, serta teknik evaluasi sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik.
"Para guru kami membagi pembelajaran berdasarkan isi materi, prosesnya, serta penilaiannya," katanya.
Bagi dia, perubahan yang paling jelas yaitu peningkatan kemampuan para guru dalam mengetahui kebutuhan pembelajaran murid-muridnya. Dahulu, guru hanya bergantung pada evaluasi membaca saja, namun saat ini mereka sudah memiliki alat ukur yang lebih komprehensif guna memahami situasi masing-masing peserta didik. Akibatnya tampak dari hasil prestasi akademis sekolah tersebut. Ia menyebutkan bahwa indikator literasi dan numerasi di SD Negeri 1 Teros selalu berada dalam kriteria yang bagus dari waktu ke waktu.
Pada Ujian Kemampuan Akademik 2026 yang diikuti oleh 699 Sekolah Dasar Negeri maupun Swasta di Lombok Timur, seorang murid dari SDN 1 Teros mampu mencapai prestasi luar biasa dengan memperoleh skor 96,67 dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Dari sudut pandang sekolah, pencapaian ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak saja bermanfaat bagi peserta didik dengan kendala dalam belajar, namun juga mampu memperbaiki mutu penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh.
"Bagi kami, pendidikan inklusif bukan merupakan suatu lokasi, melainkan sebuah fasilitas," ujarnya.
Pantauan langsung IDN Times Di tempat tersebut, siswa dengan kebutuhan khusus terlihat semangat saat belajar, walaupun beberapa diantaranya sedikit canggung. Namun, kendala bullying Masih perlu mendapat perhatian serius, karena keadaan seperti itu mudah terjadi apabila pihak sekolah belum memberi pemahaman yang cukup pada para siswa biasa mengenai 'perlakukan istimewa' yang dialami teman mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Walaupun begitu, program ini merupakan langkah penting dalam menjamin adanya inklusi bukan hanya sebagai ucapan kosong, namun benar-benar dilaksanakan.
Dari sebuah sekolah kecil di ujung timur Pulau Lombok, konsep bahwa setiap anak memiliki hak untuk belajar sesuai dengan keperluan mereka saat ini sedang direalisasikan. Tidak hanya melalui aturan pemerintah, tapi juga melalui penggunaan data, kerja sama, serta pergeseran pola pikir mengenai keragaman dalam ruangan kelas.
Kisah Komunitas Penyandang Cacat di Nusa Tenggara Barat, Berani Melangkah Jauh karena Bebas Pajak Kerja sama Indonesia-Australia: Penduduk dengan Keterbatasan Fisik di Nusa Tenggara Barat Dibebaskan dari Pajak Kendaraan
Posting Komentar