ANTS.CO.ID, BEIRUT - Pasukan Penjaga Kesejahteraan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libanon (UNIFIL) menyampaikan bahwa satu anggota pasukan pengawal kembali kehilangan nyawa pada hari Jumat pagi. Dia meninggal karena cedera yang dialami setelah peluru meriam menyerang posisi mereka di dekat Marjayoun di bagian selatan Libanon semalam.
UNIFIL menyebutkan bahwa dua anggota pasukan pemelihara perdamaian lainnya mengalami cedera akibat kejadian itu dan saat ini sedang mendapatkan pengobatan.
"Segera setelah kejadian kemarin malam, petugas damai yang mengalami cedera berat dibawa ke rumah sakit di Beirut dan meninggal karena lukanya," demikian pernyataan UNIFIL pada hari Jumat.
Unifil tidak merujuk pada asal muasal peluru tersebut, namun menyampaikan bahwa penyelidikan sedang berlangsung "untuk menentukan kondisi jelas yang menjadi penyebab peristiwa mengerikan ini".
UNIFIL masih belum mengungkapkan dari negara mana prajurit damai yang gugur berasal. Tetapi perlu diketahui bahwa pasukan Indonesia berada di pos-pos Perserikatan Bangsa-Bangsa (PNB) yang terdapat di Wilayah Sektor Timur UNIFIL di Kecamatan Marjayoun, termasuk markas kontingennya di daerah Adshit al-Qusayr.
Di akhir bulan Maret 2026, kantor pusat pasukan TNI di Adshit al-Qusayr, Kecamatan Marjayoun, menjadi target penyerangan senjata berat yang menimbulkan protes global dari pemerintah Indonesia maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kejadian tersebut menyebabkan jatuhan korban jiwa dari anggota TNI (misalnya Praka Farizal Rhomadhon) serta sejumlah luka-luka.
Pasukan keamanan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) melaporkan adanya aktivitas militer Israel yang intensif selama tiga hari terakhir, demikian dikatakan oleh perwakilan PBB pada hari Senin. "Dari hari Jumat hingga saat ini, UNIFIL tetap mengamati aktivitas militer yang besar di berbagai wilayah operasionalnya," ujar Farhan Haq dalam jumpa pers bulan Mei lalu.
Haq menyebutkan bahwa "Pasukan Penjaga Perdamaian melihat lebih dari 1.296 jalur atau peluru yang terkait dengan Angkatan Pertahanan Israel, serta 64 jalur atau peluru yang berkaitan dengan Hizbullah" pada masa tersebut.
Terkait batasan gerak, dia menyampaikan "kejadian yang melibatkan penyangkalannya atas kebebasan bergerak bagi pasukan pengaman dunia UNIFIL masih terjadi secara harian," sambil menambahkan bahwa sebuah kendaraan tempur dan alat berat milik angkatan bersenjata Israel menghalangi staf UNIFIL di Wilayah Barat pada hari Sabtu.
Haq mengulangi bahwa "tanggung jawab seluruh pihak ialah memastikan UNIFIL dapat bergerak bebas tanpa hambatan serta melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka."
Menurut OCHA, Haq mengingatkan akan perbaikan kondisi krisis kemanusian di Lebanon meski telah terjadi gencatan senjata.
Lebih dari 100 insiden telah dilaporkan hanya dalam 24 jam terakhir, sedangkan 87 jiwa meninggal dunia sepanjang akhir pekan.
Menyebutkan kebutuhan tambahan anggaran senilai 308 juta dolar AS untuk Pengajuan Bantuan darurat selama bulan Maret hingga akhir Mei, dia mengingatkan bahwa "tanpa pembiayaan yang lengkap, akan terjadi gangguan dalam layanan-layanan penting, seperti kesehatan, pasokan air, serta sanitasi."
Walaupun gencatan senjata diumumkan tanggal 17 April dan diperpanjang sampai dengan 17 Mei, pasukan Israel tetap melaksanakan serangan rutin ke Lebanon.
Mulai tanggal 2 Maret, serangan yang dilakukan Israel terhadap Lebanon telah memakan korban jiwa minimal sebanyak 2.869 orang, melukaikan 8.730 orang, serta membuat lebih dari 1,6 juta penduduk bermigrasi, yaitu kira-kira sepertiga jumlah penduduk negara tersebut, berdasarkan data pemerintah terkini.
Posting Komentar